Mengenai Saya

Foto saya
Suka Nulis, walaupun ada yang bilang tulisanku gak bagus, tapi mencoba lebih baik. Berbuat salah itu biasa, tapi mengakui kesalahan itu yang luar biasa, Best Regards.

Jumat, 27 Mei 2011

VIRGINITAS

Sumber Materi : Hatta Syamsuddin :Penulis, Dosen Mahad Abu Bakar UMS Solo, Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis. Pertanyaan tentang pentingnya arti keperawanan dalam sebuah pernikahan. Dalam menjawabnya, Narasumber (Hatta Syamsuddin) teringat dengan satu bahasan yang pernah di tulisnya dalam buku Inspiring Romance, yaitu : " Sekalipun tidak ada Darah yang Menetes ". Semoga bermanfaat.

BAHKAN SEKALIPUN TAK ADA DARAH MENETES

Ada malam pertama yang seharusnya terindah dalam hidup berubah menjadi neraka dan ladang pembantaian harkat dan martabat suami istri. Sebab yang paling banyak adalah karena tak ada sedikitpun darah yang menetes dari kemaluan mempelai perempuan. Kesimpulan singkatnya, pengantin perempuan tidak perawan lagi dan bukan orang baik-baik. Pengantin pria pun merasa ditipu dan dikhianati. Akibatnya terkadang cerai ditempat. Ada pula yang berubah menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dalam kehidupan rumah tangga itu. Lebih jauh lagi, pernah terdengar ada yang sampai menyakiti dan membunuh istri di malam pertamanya, karena terlalu besar harapan dan kekecewan yang dijumpainya.Naudzubillahi min dzalik. Sungguh sebesar inikah arti setetes darah ?
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran “ (QS An-Najm 28)

Semua hal ini bersumber dari satu hal : nilai agung keperawanan. Masyarakat timur masih tinggi menjunjung nilai ini. Seorang pengantin tidak perawan bagi mereka adalah aib besar keluarga. Di lain tempat, saya pernah membaca sebuah tradisi unik, saat pengantin pria membawa pasangannya ke kamar pengantin, berduyun-duyun serombongan orang menunggu tepat dihadapan pintu kamar tersebut. Sesaat setelahnya, pengantin pria keluar dengan membawa sehelai kain yang ada bercak darahnya lalu memperlihatkannya pada mereka yang menunggu di luar. Setelah melihat darah itu, mereka pun merasa puas dan bergembira. Merayakannya dengan pesta ‘keperawanan’ dan meninggalkan kamar pengantin dengan segera. Lihat, betapa tinggi sebuah keperawanan, hingga masyarakat pun ikut ambil bagian dalam proses penilaiannya.

Adapun masyarakat barat, sebagian besar tak lagi menuntut keperawanan saat menikah. Itu tidak lagi menjadi sebuah hal yang agung. Para orang tua tidak lagi berpesan pada anak gadisnya saat keluar rumah untuk hati-hati dalam bergaul. Mereka cukup cerdas dan visioner dengan memberikan sejumlah kondom sebagai bekalnya diluar rumah. Asalkan tidak hamil, asalkan suka sama suka maka lelaki manapun sah-sah saja menikmati tubuh anak gadisnya. Naudzubillahi min dzalik.

Lalu bagaimana dengan kita ? Menjawab ini semua butuh hati bijak dan rasio mendalam. Permasalahannya tidak sekedar ada tidaknya darah yang keluar. Pandangan banyak orang terlalu cepat menyimpulkan bahwa tidak ada darah, berarti tidak perawan. Tidak perawan disimpulkan bukan gadis baik-baik. Apalagi jika tidak dikomunikasikan hal itu sebelumnya, sang suami menyimpulkan ada penipuan terencana, merasa dikhianati, kecewa, dan lain sebagainya.

Setidaknya ada empat sikap dan pemahaman yang harus kita tahu, pahami, dan jalani dalam menyikapi berbagai permasalahan yang menyangkut ada tidaknya darah yang keluar di malam pertama. Namun sebelumnya, harus ada keinginan luhur untuk menjaga keindahan dan kemesraan malam pertama. Apapun yang terjadi. Bahkan sekalipun tak ada setetes darahpun yang keluar.

a. Intropeksi diri, Mengkaji Ulang cara memilih Anda.

Allah SWT berfirman : “ Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita baik-baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik(pula) “ (QS An-Nur : 26 )
Ada sebuah isyarat yang diungkapkan ayat diatas, bahwa pada umumnya setiap orang mempunyai kecenderungan yang sama dengan pasangannya. Ini sama sekali terlepas dari pembahasan fikih bab syarat sekufu’ dalam memilih jodoh.Ini masalah kecenderungan yang berhubungan dengan hobbi, kebiasaan, karakter, kesukaan, teman dan lingkungan, dan sebagainya. Isyarat yang senada juga ada dalam hadits : “ Jiwa-jiwa itu bagaikan pasukan yang dibariskan, yang saling senang akan bertemu dan yang saling benci tidak akan bertemu “ ( HR Muslim (2638) dari Abu Hurairah ). Hadits tersebut adalah komentar Rasulullah saw, saat mendapati seorang wanita Mekkah yang gemar bercanda lalu hijrah ke Madinah dan bertemu akrab dengan wanita Madinah yang juga suka bercanda !

Maka, pada umumnya karakter kita tidak akan jauh-jauh berbeda dengan pasangan kita. Saya beberapa kali mengomentari saat ada seorang ikhwah mengeluh tentang proses pernikahan aktifis dakwah yang berawal dari sebuah imel, chatting, atau bahkan sms, dan mengabaikan ‘jalur’ konsultatif dengan para murobbinya. Saya mengatakan padanya, dengan berlandaskan ayat di atas ; bahwa akhwat yang gemar chatting wajar jika mendapat ikhwan yang gemar chatting pula. Mereka yang suka berbalas sms wajar jika mendapat pasangan mereka yang suka berbalas sms juga. Ini artinya apa ?

Dalam konteks tidak ada darah pada malam pertama, sungguh ini adalah sebuah konsekuensi dari pilihan kita jauh-jauh hari sebelumnya. Ketika kita berproses, ada jeda yang cukup untuk menimbang ulang dan mencari data tambahan sebagai bahan pertimbangan. Kita pun sadar sepenuhnya, bahwa prioritas kriteria pasangan kita adalah agamanya bukan ? Terlebih, setelah pilihan itu terlegitimasi secara penuh dengan keyakinan kita usai sholat istikhoroh. Kemudian setelah semua fase dan pertimbangan kita lampui, hati kita teguh menyatakan bahwa dia pilihan kita, maka sesungguhnya pada saat yang sama kita telah berikrar untuk siap konsekuen, menerima, dan bertanggung jawab atas hal-hal yang kita temui pada pasangan kita di kemudian hari.

Tidak sedikit mereka yang mengetahui persis bagaimana keadaan pasangannya jauh sebelum mereka menikah. Dari yang terkenal playboy gonta-ganti pacar, mantan pemakai narkoba, generasi hura-hura, hingga mereka yang alim, santun, dan mengenal dakwah sejak masih berpakaian OSIS. Bukankah semua itu telah menjadi pertimbangan jauh-jauh hari sebelum akad ditunaikan ? Maka pertanyaan selanjutnya adalah : Setelah semua pertimbangan dan keyakinan kita bahwa pilihan kita tidaklah salah, baik dari segi aqidah, akhlak, ibadah, kepribadian, dan pemahaman agamanya, maka apalah artinya ada tidaknya setetes darah di malam pengantin ini ?

b. Mengetahui Sejarah Darah, Tidak lekas berburuk sangka

Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (QS Al-Hujurat : 12)

Memang tidak mudah membiaskan prasangka buruk menjadi sebuah permakluman. Sementara banyak orang menyatakan bahwa tidak ada darah, berarti istri kita mempunyai masa lalu yang kelam. Naudzubillah. Untuk menghindari segala persangkaan yang tak perlu, apalagi jika berakibat kontak fisik hingga perceraian, ada baiknya kita mengetahui ‘sejarah’ ada tidaknya darah di malam pertama.

Sejarah munculnya darah tersebut adalah robeknya hymen (selaput dara), yaitu kulit tipis yang terletak menutupi sebagian besar muara / mulut vagina. Bentuknya setengah lingkaran dan ada lubang kecil untuk mengalirkan darah haidh dan sekresi. Kebanyakan hymen ini memang robek dan berdarah saat terjadi persenggamaan perdana, entah di malam pertama atau malam-malam sebelumnya, dalam kasus perzinaaan atau perkosaan misalnya.Namun tidak menutup kemungkinan tidak ada darah sedikitpun yang keluar saat senggama, karena disebabkan kondisi selaput dara yang beragam. Ada selaput dara yang elastis atau lentur sehingga tidak robek saat senggama ; Ada selaput dara yang berlobang besar hingga tidak robek saat dilalui oleh penis; Ada pula yang memang sudah robek saat kecil karena kecelakaan atau berolahraga.

Nah, begitu banyak kemungkinan yang seharusnya bisa menghindarkan kita dari rasa was-was dan curiga karena tidak ada darah di malam pertama. Ketika kita tahu persis siapa pasangan kita dan bagaimana sebagian sejarah hidupnya, maka adalah tidak layak jika tiba-tiba kita berbalik 180 derajat dan menuduhnya yang bukan-bukan, hanya saat kita melihat tak ada darah di malam pertama.

Kalau ingin sekedar melihat darah di malam pertama, maka kedokteran modern saat ini telah menemukan operasi untuk membuat selaput dara palsu. Sehingga mantan (maaf) pelacur sekalipun akan terlihat bak gadis perawan saat malam pertama pernikahannya. Anda mau yang seperti itu ? Naudzubillah

c. Taubat : Anti Virus Masa Lalu yang paling canggih

Bahkan sekalipun ada bibir mungil yang menangis penuh iba malam itu. Menyatakan bahwa ada kejadian kelam di masa lalu telah merenggut keperawanannya. Sang suami pun tidak bisa serta merta memvonisnya dengan cerai, atau ‘sekedar’ menghujaninya dengan kalimat-kalimat yang membantai. Bisa jadi kejadian kelam itu adalah perkosaan dengan segala modus operandinya. Bisa jadi pula memang atas dasar suka sama suka, saat hati belum sepenuhnya sadar akan sebuah dosa.

Untuk kasus pertama, maka sungguh mulia dan sungguh besar jiwa Anda jika mampu memakluminya. Andalah ‘sang dewa penolong’ yang diharapkan meneguhkan hati dan perasaannya yang gundah selama ini. Mungkin juga ia memilih Anda karena yakin bahwa Anda adalah seorang bijak yang berhati mulia. Benar-benar sebuah ‘pakaian’ yang berfungsi untuk menutupi, melindungi dan menghangati. Insya Allah semua berpahala.

Namun jika atas dasar suka sama suka, maka pastikan dan yakinilah bahwa hanya taubat yang tersisa pada dirinya. Tidak ada cinta dan gairah masa kelam yang masih ada. Hanya taubat dan sungguh taubat nasukha itu menghapuskan setiap kejahatan betapapun besarnya. Tidak sekali-sekali kita meremehkan sebuah taubat yang sungguh-sungguh ketulusannya. Ingat saja kemarahan Rasulullah saw saat Khalid bin Walid mencerca wanita Ghamidiyah yang tengah dirajam karena berzina. Rasulullah saw menyatakan : “ Tenanglah wahai Khalid. Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perempuan ini telah bertobat dengan tobat yang apabila dilakukan oleh seorang penarik pajak secara kejam, niscaya dia akan diampuni “ ( HR Muslim V/120 ).

Di lain wakru, masih pada kasus perzinaan, kali ini dilakukan oleh seorang wanita Juhainah. Setelah tewas dirajam, Rasulullah saw pun menyalati wanita tersebut, hingga Umar bin Khattab ra heran dan bertanya : “Apakah engkau menyalatinya ya Nabiyyullah. Padahal dia telah berbuat zina ? “. Nabi saw menjawab, “ Sesungguhnya dia telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Seandainya tobat wanita ini dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, maka hal itu masih cukup “ ( HR Muslim V/120)

Meski demikian agungnya sebuah taubat di sisi Allah, namun di sisi seorang laki-laki terkadang lain kesannya. Sungguh berat menerima hal ini. Sebagai laki-laki ada gengsi yang tinggi ketika menerima kenyataan istrinya pernah berbuat keji dengan laki-laki lain. Jangankan keperawanan fisik yang telah direnggut, sebagian laki-laki ada pula yang tidak mau menerima istri yang pernah mencintai orang lain. Salah satu contoh tipe laki-laki tersebut adalah As-Syahid Sayyid Quthb. Beliau menolak menikahi seorang wanita yang lama dicintainya secara tulus, hanya karena wanita tersebut pernah berkenalan dan dipinang oleh laki-laki lain. Keperawanan hati, demikian beliau mengistilahkannya dalam karya sastra romantis yang bertutur tentang kisah nyata cinta sejatinya, jauh sebelum mengenal dunia dakwah dan pergerakan.


Akhirnya, semua telah terjadi. Pastikan bahwa tidak ada lagi cinta jahiliyah yang terpendam. Pastikan bahwa hanya taubat yang tersisa. Kemudian berusahalah untuk menerima istri Anda apa adanya. Membimbingnya dengan sepenuh keyakinan, bahwa taubat adalah software anti virus masa lalu yang paling canggih dan selalu up to date.

Jika belum mampu, maka tunggulah sejenak barang sepekan dua pekan. Tak perlu ada banyak perdebatan atau pertengkaran fisik terjadi. Hingga kita yakin sepenuhnya bahwa tidak ada emosi dan nafsu yang berbicara. Keputusan yang terbaik dan barakah, insya Allah kan menjelang.

d. Meneguhkan bukan Meruntuhkan Mesra

Ada kalanya tak ada darah di malam pertama, dan sang istri pun tak tau apa sebabnya. Namun yang berkecamuk hebat dalam pikirannya, sang suami meragukan keperawanannya. Maka hatinya pun serasa hancur terjerembab. Percaya diri yang sedari tadi ditatanya runtuh tak terkira. Tiba-tiba wanita tersebut menjadi sang tertuduh. Ia sangat heran mengapa tak ada sedikitpun darah yang menetes. Padahal kondisinya serupa persis dengan apa yang dikatakan Maryam as kepada Jibril As : Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku, dan aku bukan (pula) seorang pezina “ ( QS Maryam 20 )

Terkadang ini menjadi hal yang begitu mengerikan bagi para wanita. Mereka yang sejak lama menunggu malam pengantin untuk mempersembahkan darah perawannya pada sang suami tercinta, tiba-tiba harapan mulia ini pupus begitu saja. Tidak ada darah yang keluar, dan ia merasa wajah suaminya berubah begitu menyeramkan. Hatinya menangis teriris-iris dan berkata-kata lirih, sebagaimana kondisi Maryam saat merasa takut akan tuduhan kaumnya : “ Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti dan terlupakan (oleh manusia) “ (QS Maryam 23)

Wahai para suami, jika menemukan kondisi seperti ini, saatnya untuk meneguhkan mesra. Bukan meruntuhkannya. Saat ini sangat menentukan baginya. Ada kata-kata bijak yang ditunggunya dari Anda. Katakan sejujurnya, bahwa setetes darah bukanlah hal yang besar bagi Anda. Katakan pula, bahwa banyak hal dan kondisi yang mungkin menyebabkan tidak tumpahnya darah sama sekali. Katakan apa saja yang meninggikan hatinya, hingga rasa percaya dirinya tumbuh kembali. Hingga ia merasa bahwa Anda sama sekali tak terpengaruh dengan peristiwa aneh yang baru saja terjadi. Saatnya meneguhkan mesra, bukan meruntuhkannya.


Tidak ada komentar: