Mengenai Saya

Foto saya
Suka Nulis, walaupun ada yang bilang tulisanku gak bagus, tapi mencoba lebih baik. Berbuat salah itu biasa, tapi mengakui kesalahan itu yang luar biasa, Best Regards.
Tampilkan postingan dengan label Kajang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2011

KAMPALO (traditional food)

Sama saja dengan Dumpi Eja. Jenis makanan yang satu ini juga hanya ada di Kecamatan Kajang adalah Kampalo. jenis makanan ini juga biasanya tersedia pada acara-acara pabbuntingan (nikahan), kalomba, akdangang, pakkatterang dan naik riballa.

Bentuk kue ini bulat panjang, teksturnya lembut, Rasanya gurih, Penasaran? boleh di coba, yuk ke Kajang!..(tau dong penulis kan orang kajang he heee)

 
Bahan Resep Kampalo
  1. ½ btr Kelapa
  2. ½ sdm Garam
  3. 500 gr Beras ketan
  4. Daun kelapa muda
Cara Membuat Kampalo
  1. Parut kelapa, buat 250 cc santan kental. Masak santan dengan garam hingga mendidih
  2. Cuci bersih ketan, tiriskan, dan masukan ke dalam santan mendidih, masak hingga setengah matang. Angkat dari api dan bungkus dengan daun kelapa muda. bentuknya bulat panjang. Ikat dan rebus lagi hingga matang. Angkat

DUMPI EJA (traditional food)

Salah satu jenis makanan tradisional yang hanya ada di Kecamatan Kajang adalah dumpi eja. jenis makanan ini biasanya tersedia pada acara-acara pabbuntingan (nikahan), kalomba, akdangang, pakkatterang dan naik riballa.

Bentuk kue ini bulat, teksturnya kasar dan keras, Rasanya manis semakin dikunyah semakin terasa manisnya, Penasaran? boleh di coba, yuk ke Kajang!..(tau dong penulis kan orang kajang he heee)



Bahan-bahan yang dibutuhkan
  1. Gula Merah
  2. Tepung Beras
  3. Air
  4. wijen
Alat-alat
  1. Wajan khusus terbuat dari baja
  2. kompor
  3. Sude' 
  4. sendok besar
Cara Pembuatan
  1. Rendam beras sekitar 5- 10 jam kemudian kemudian tiriskan selanjutnya beras tersebut digiling sampai menjadi tepung.  
  2. Ambil tepung 5 liter dan diaduk dengan tangan ditambahkan gula merah yg telah disisir sebanyak 3 liter sampai menyatu, tambahkan air sedikit demi sedikit sampai membentuk bulatan yang kenyal.
  3. Setelah adonan bersatu kemudian diamkan dalam wadah (baskom) sampai semuanya benar-benar bersatu tanpa serat dan membentuk adonan, kemudian tambahkan wijen 1 gelas. diamkan sekitar 12 jam.
  4. siapkan penggorengan, minyak. dan bersiap untuk menggorengnya.
  5. hasilnya pasti enak.











Selasa, 29 Maret 2011

AMMATOA KAJANG, BULUKUMBA

Suku Ammatoa di Kajang memang menyimpan begitu banyak cerita bagi setiap pengunjungnya. keberadaannya yang cukup jauh dari kota membuat masyarakatnya masih menganut sistem tradisional baik dari segi ritual keagamaan ataupun sosial kehidupannya...

Etnis Amma Toa berada di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba. Letaknya kurang lebih 40 km sebelah timur Kota Bulukumba. Keunikan budayanya sudah terdengar hingga ke seluruh penjuru dunia. Keunikan ini pula yang membuat Kajang tiap tahunnya dibanjiri wisatawan mancanegara.

Orang Ammatoa betul-betul memegang teguh kitab lontara itu. Pasang ri Kajang menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni, penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal. Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.


Masyarakat adat Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.
Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila kita memasuki kawasan ammatoa pakaian kita harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.

Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Dalam bahasa bugis Konjo yang kental merupakan bahasa suku yang selama ini sebagai media komunikasi antar sesama masyarakat suku kajang.


Salah satu model rumah yang berada dalam kawasan adat Ammatoa modelnya tampak pada gambar diatas, kehidupan yang begitu sederhana, jika masuk ke dalam rumah hal yang pertama dilihat adalah dapur, rumah model ini tidak memiliki teras atau beranda dan di dalamya tidak memiliki kamar tidur. Rumah Adat Suku Kajang bila kita melihat secara fisik tidak jauh beda dengan rumah adat masayarakat bugis makassar struktur yang tinggi dan masih mempergunakan kekayaan hutan disekitar untuk membuatnya


Bukan hanya itu segi pakaian pun cukup berbeda yang dikenakan oleh orang asli Ammatoa yang keseluruhannya berwarna hitam seperti terlihat pada foto disamping

Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh Laki-Laki, penutup kepala disebut Passapu dan sarung yang biasa juga disebut Tope Lelleng
(sarung hitam)


Pakaian Khas yang biasa dikenakan oleh kaum perempuan yang smuanya juga berwarna hitam.






Begitu banyak Kebudayaan yang dimiliki oleh Masyarakat Bugis Makassar sudah sepantasnya lah kita melestarikan kebudayaan tersebut. Suku Kajang salah satu dari sekian banyaknya budaya nusantara yang masih kental akan adat istiadatnya.